Senin, 04 Oktober 2010

Cintai Anak Indonesia dengan Nyali MU

Hei teman,.... kamu tahu kan yang namanya NYALI .....?
Menurutku orang sekarang sudah banyak yang tidak mempunyai nyali.
Agar kalian tidak bingung teman,..... coba kita lihat ke dalam Kamus Bahasa Indonesia online di situs www.KamusBahasaIndonesia.org.

Kata yang paling tepat untuk konteks yang akan saya kupas adalah NYALI = KEBERANIAN.

Pernahkah kalian membayangkan bahwa untuk dapat membantu orang lain itu membutuhkan keberanian (NYALI)?
Jika anda setuju dengan yang saya sebutkan di atas, maka saya tantang Anda....... AYO TUNJUKKAN NYALImu...... :)

Saya sadar, walaupun saya bernyali BESAR (.....ha...ha.. ha... gua banget ... GR aja).... tetapi saya tidak dapat menolong orang lain sendiri.
So what ..... begitu loh....... ?

Begini teman-temanku yang baik........? Aku butuh bantuan kalian. Namun ada syaratnya yaitu bahwa kalian mempunyai NYALI yang cukup untuk melangkahkan kaki ke suatu tempat yang mungkin belum pernah kalian bayangkan sama sekali.

BAIKLAH, jika kalian penasaran silahkan baca tulisan di bawah ini:

Bersama Medici Bantu Sesama.
Hidup di dunia tak selalu hanya memikirkan duniawi dan kekayaan. Namun lebih dari itu tanyalah pada diri apa yang telah kita perbuat bagi sesama. Pada akhirnya, berbagi pada sesama merupakan hal yang akan membuat hidup Anda terasa lebih berguna dan dibutuhkan.

Keinginan untuk berbagi pada sesama inilah akhirnya yang menggugah Medici untuk mendukung program kerja Unicef yang bekerjasama dengan pemerintah Indonesia dalam program imunisasi.
Dalam pelaksanaan program ini, Medici memberikan kartu dan pin bertuliskan I support Unicef pada setiap pengunjung Medicci di Bellezza Shopping Arcade, lt.1 unit 161-171, Jalan Letjen Soepeno No.34 Arteri Permata Hijau, Jakarta Selatan.

Selain itu, Kami juga menyumbangkan Rp 10.000 kepada Unicef sesuai dengan jumlah pengunjung yang datang ke show-room Medici," ujar Ardi Joanda selaku President Medici. Program ini berlangsung mulai dari 2 Agustus 2010 hingga 31 Januari 2011.

"Sudah saatnya kita ikut berpartisipasi membantu meringankan beban anak-anak Indonesia yang sangat memerlukan uluran tangan dari kita. Cukup dengan mendatangi showroom Medici, Anda sudah melakukan hal yang berarti besar bagi anak-anak Indonesia. Hal ini merupakan bagian dari program kami, I Medici family and friends for Indonesian children," ujar Ardi menambahkan.

Selain itu, Anda juga menyalurkan donasi via rekening khusus Medici untuk program imunisasi Unicef hingga 31 Januari 2011 via transfer melalui BCA Hasyim Ashari, Acc 262-3050.777 atas nama PT Medici Graha Indonesia.

Ardi juga mengatakan bahwa hanya dengan Rp 100.000, Anda telah menciptakan masa depan yang lebih baik bagi 20 anak Indonesia. "Dalam program ini, kami menargetkan dana yang terkumpul mencapai Rp 1 milyar, sehingga 200.000 bayi di Indonesia bisa mendapatkan kualitas kesehatan yang lebih baik," ujar Ardi menambahkan.


Kualitas premium.
Bukan hanya kualitas kesehatan calon penerus bangsa yang selalu dipikirkan oleh Medici, karena dalam setiap produknya Medici selalu mengutamakan kualitas, kenyamanan, dan keselamatan.
Sebagai pioner furnitur retail store yang pertama dan merupakan satu-satunya yang diresmikan oleh duta Besar Amerika untuk Indonesia, Medici menawarkan furnitur kualitas terbaik yang didatangkan langsung dari Amerika.
dst.....

(Dikutip dari KOMPAS, Kamis 30 September 2010, halaman 34)

Jika Anda penasaran dengan desain yang ditawarkan, kunjungi segera showroom Medici. Kehadiran Anda dan kerabat tentunya merupakan hal yang sangat berarti bagi banyak anak di Indonesia. Semoga harapan untuk mewujudkan Indonesia yang sehat akan terwujud. [AYA]

JADI benarkan, untuk mencintai Anak Indonesia dapat dilakukan dengan menguji NYALI Ane dan Ente untuk berani melangkahkan kaki ke:

MEDICI Flagship Store:
Bellezza Shoping Arcade, 1st Floor
Jl. Letjen Soepeno No.34, Arteri Permata Hijau,
(diseberang ITC Grand Permata Hijau)
Jakarta Selatan 12210 - Indonesia
Phone. (021) 25675999 Fax.(021) 2567 5998
e-mail: pr@mediciliving.com
www.mediciliving.com

Minggu, 03 Oktober 2010

SMI for Indonesia President 2014

Kawan.... tadi pagi aku ketemu teman lama saat pergi belanja ke Pasar Kopro.
Maklumlah, sebagai suami yang memberikan komitmen kepada belahan jiwaku untuk saling berbagi pekerjaan dan tanggung jawab dalam mengurus rumah tangga kami, jadilah aku sebagai anggota ISTI (Ikatan Suami Takut Istri).

Benar .... lho, saya anggota ISTI 100%. Tidak saya sangkal itu.
Ketakutan saya yang terbesar terhadap Istri adalah ia tidak mau memasakkan makanan buat saya, karena dia tidak mau membeli bahan mentahnya di pasar. Tempatnya terlalu jauh.....?

Hei..... apa hubungannya dengan SMI for Indonesia President 2014?
Hubungannya .... baik-baik saja.... @:)
maksudku....... kalo seorang istri yang memperhatikan suaminya untuk dapat memperoleh makanan yang terbaik sebelum berangkat kerja ke kantor, perlu mendapat dukungan suaminya agar ia dapat memasak makanan yang dibutuhkan oleh si suami? Ceng li ... khan!

Saya mengibaratkan SMI (Sri Mulyani Indrawati) sebagai kandidat Presiden Indonesia 2014, dan melihat peranan istri saya di rumah yang walaupun sebagai wanita karir, tetap peduli dengan makanan suaminya. Saat saya masih asyik di dunia mimpi, dia telah bangun di subuh hari untuk meracik menu makanan yang akan dibuat untuk kami sekeluarga hari itu.

Oh.... TUHAN, terima kasih atas istri yang sebaik ini.
Namun saya juga suka nakal, kadangkala walaupun sudah tahu bahwa dibuatkan makanan yang enak karena diambil dari buku resep makanan "jimat" istri saya, kadangkala saya memilih memakan "telor ceplok" dengan sedikit kecap asin untuk mengganjal perut di pagi hari. Namun istriku tercinta tidak pernah marah dengan perilaku suaminya ini!

Jadi, bagaimana kalau yang memimpin negeri ini adalah Sri Mulyani Indrawati di tahun 2014? Menurut saya oke banget......! Kasihnya kepada negara dan bangsa ini pastilah lebih besar daripada kasih istri saya kepada saya.... :)

Bu.... Sri Mulyani Indrawati, ...... kapan Ibu pulang.....?

Apabila engkau teman......, ingin tahu lebih jauh tentang Ibu Sri Mulyani Indrawati, dapat membuka situs http://www.SriMulyani.net


Senin, 4 Oktober 2010 pk.00.07 WIB

Sabtu, 02 Oktober 2010

Sri Mulyani Presiden Republik Indonesia tahun 2014

Teman, aku mau bercerita tentang kasih seorang anak kepada Ibunya.

Kalian pernah dengan cerita tentang "Sabai Nan Aluih" ..... barangkali tidak ya...?
Kisah ini muncul di negeri tempat kelahiranku, negeri yang memiliki adat istidat yang mengajarkan kasih dari anak kepada orang tua (Ibu dan Bapak, serta orang yang dituakan).
Apabila kalian ingin membaca kisah tersebut di atas, silahkan datang ke Perpustakaan Negara terdekat. Cari... disana......"ketemu.... deh...?"

Sabai Nan Aluih disini sekarang berubah bentuk menjadi Srikandi yang ditunggu-tunggu oleh Ibunya. Ibunya adalah ibu kita semua yang bernama Ibu Pertiwi.
Karena liciknya pedagang terhadap keluarga Sabai Nan Aluih, maka ia harus rela merantau ke negeri orang untuk mencari penghasilan guna membayar hutang-hutang Ibunya kepada rentenir yang meminjami mereka uang.


Sabai Nan Aluih, kini berubah nama menjadi Sri Mulyani Indrawari (Srikandi)yang dirindukan orang kampuang halamannya untuk melunasi hutang-hutang Ibunya dan juga hutang-hutang orang sekampung kepada rentenir busuk yang telah membuat mereka sengsara.

Dalam lagu yang dinyanyikan oleh saudara-saudara di kampung halamanku, syairnya berbunyi seperti ini:


"wahai rabab, yo rabab, tolong sampaikan .......
urang rantau,...... capeklah pulang......"


"Wahai rabab (alat musik), hai rabab (alat musik), tolong sampaikan ......
Ibu Sri Mulyani Indrawari,..... (yang sedang merantau di negeri orang).....
pulanglah.......!

Jumat, 01 Oktober 2010

Emangnya TKI itu orang bodoh....?

Waduh.... emang TKI (Tenaga Kerja Indonesia) itu orang bodoh ya....?
Itulah yang muncul di kepala "sebagian orang" ketika mereka mendengar kata TKI?
Secara umum, setiap kali mendengar kata TKI maka yang muncul dalam gambaran di kepala orang adalah "pembantu yang disiksa majikan di Luar Negeri", atau "pembantu yang loncat dari jendela rumah di Luar Negeri", atau "pembantu yang dihamili oleh majikannya di Luar Negeri".

Jika kita kembali melihat makna kata Tenaga Kerja Indonesia (TKI), yang merupakan kata yang digunakan untuk menunjukkan identitas seorang pekerja dari Indonesia ketika dia berada di negeri orang.
Jadi, siapakah TKI itu?
Supaya tidak terlalu bertele-tele saya dapat mengatakan bahwa Ibu Sri Mulyani (mantan Mentri Keuangan Republik Indonesia)adalah TKI. Namun beliau masuk dalam kategori skill worker, karena memiliki kompetensi yang dibutuhkan di World Bank sebagai Managing Director.
Namun demikian, si "Inem" yang saat ini menjadi pembantu di negeri jiran dan tidak mendapatkan gaji selama 1 tahun karena masuk ke Malaysia secara illegal, juga disebut sebagai TKI.

Hei teman........, aku punya cerita yang sangat bagus untuk mengubah cara pandang orang tentang TKI. Cerita ini harus kubagikan, agar lebih banyak lagi insan Indonesia menghargai label TKI yang dikenakan pada orang-orang tertentu karena kekurang mampuan kita untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi saudara-saudari sebangsa dan se-Tanah Air.

Apakah ada di antara kalian yang mengenal seorang TKI dari Serang yang bernama Nuryati?
Beliau berangkat ke negeri Arab beberapa tahun yang lalu untuk mencari kesempatan dan penghasilan untuk mengubah nasibnya dan nasib keluarganya? Dapatkah engkau membayangkan bahwa di Arab setiap TKI tidak boleh membawa apapun ketika dia akan keluar rumah. Itulah cara yang digunakan oleh majikannya untuk mencegah agar si TKI ini tidak lari ke mana-mana.

Si mbak ini ternyata tidak kekurangan akal (emang orang Indonesia terkenal banyak akalnya), hambatan yang dibuat oleh majikannya tidak membuat dia kehabisan akal. Tekad di dalam hati mbak Nuryati sudah bulat (mantap....men!), dia akan mengumpulkan uang di Saudi Arabia, dan selanjutnya akan digunakan untuk meneruskan sekolahnya ke Perguruan Tinggi.
Hehh...... emang bisa ....?
Sabarlah.... kawan...... aku-kan lagi bercerita....., dengarkan saja ya...?

ALLAH semesta alam tidak membiarkan si mbak Nuryati ini dalam kesulitan karena niat yang ada di dalam hatinya adalah suci. Ia ingin supaya keluarganya dapat hidup lebih baik di masa yang akan datang.
Berkat dari ALLAH dicurahkan kepada mbak Nur sehingga ia mendapatkan ilham untuk dapat menyiasati "kelicikan" majikannya.

Mau tahu apa yang dilakukan oleh mbak Nur? Dia membuat lukisan kecil di bagian dalam kerudungnya dengan ballpoint. Dia menggambar bunga-bunga dan tulisan-tulisan yang menyimpan informasi tentang nomor telpon, nomor rekening, serta nama Bank yang dapat digunakan untuk mengirimkan uangnya ke Indonesia.
Si majikan tidak curiga sama sekali, karena memang mbak Nur tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapapun saat itu.

Hai teman, khususnya kalian para mahasiswa di Universitas Indonesia, apakah kalian pernah mendengar nama Ibu Nuryati Solapari, SH, MH yang saat ini mencoba melanjutkan kuliahnya pada jenjang S3 di UNIVERSITAS INDONESIA dengan konsentrasi di Bidang Hukum.

Mbak Nur sudah bermetamorfosa dari seorang TKI tamatan SMA menuju menjadi salah seorang intelektual yang membagikan ilmunya bagi kemajuan dan keselamatan umat manusia di Serang.
Saat ini Ibu NURYATI SOLAPARI, SH., MH adalah dosen pada
KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
FAKULTAS HUKUM

Alamat kantornya:
Jl. Raya Jakarta Km. 4
Pakupatan Serang - Banten 42121
Telpon (0254) 280330 (ext.215)

Saya mengenal Ibu Nuryati dari Bapak Drs. Sumardik. M.Si (Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Serang.

Semoga akan lahir lagi dari negeri ini orang-orang bermental baja seperti mbak Nur yang dengan hati suci dan niat luhur membangun negeri Indonesia, telah dibukakan jalan oleh Allah untuk menggapai kehidupan yang lebih baik.

Jadi, .... TKI itu bukan orang bodoh ya.....!

Jakarta, 2 Oktober 2010.
pk.04.27

Kamis, 30 September 2010

Kapan ya...?

Teman-teman, aku baru saja bertemu dengan beberapa saudara sebangsa dan setanah air yang berprofesi sebagai "penjual dompet kulit".
Pak Yusuf si penjual dompet ini adalah mantan TKI yang sebelumnya bekerja di salah satu negeri tujuan TKI yang paling populer. Setelah beliau lelah mencari penghidupan di negeri orang, akhirnya beliau kembali ke kampung halaman.
Knowledge yang terasah selama di negeri orang sudah meresap dalam hati dan jiwanya. Pak Yusuf memiliki semangat dan tekad bahwa ia tidak akan kembali ke negeri orang hanya sebagai TKI.
Modal yang berasal dari uang gaji yang disisihkan selama bekerja di Jepang, ditabung melalui salah satu Bank milik Negeri ini. Berbekal uang tabungan inilah akhirnya Pak Yusuf berusaha mencoba membuka usaha sendiri (memproduksi)dompet kulit sebagaimana yang telah ia lakukan selama ini di negeri orang.

Melihat dompet yang diperdagangkan oleh Pak Yusuf, saya berpikiran bahwa dompet ini sudah memenuhi standar kualitas. Walaupun relatif masih belum halus benar, tetapi sudah memenuhi unsur estetika dan macam corak yang mengundang kita untuk mau merogoh kantong untuk mengeluarkan beberapa ratus ribu rupiah untuk membeli sebuah dompet.

Selain menjual dompet, Pak Yusuf juga menjual jaket. Biasalah, seperti yang sering digunakan oleh para pengendara sepeda motor di Jakarta. Tampilannya sudah oke, hanya harganya masih terlalu tinggi untuk target market domestik (menurut saya).
Sangat saya sayangkan, bahwa Pak Yusuf belum menemukan mitra yang cocok untuk berkolaborasi agar usahanya ini dapat berkembang menjadi lebih besar.
Bagi teman-teman yang ingin dan bersedia membantu beliau dapat menghubungi Pak Yusuf di alamat e-mail astigakulit@yahoo.com.
Pak Yusuf juga memiliki situs yaitu www.astigaleather.com

Hebring mah....Pak Yusuf, dari TKI menjadi pengusaha dompet kulit.
Semoga bisa jadi pengusaha yang lebih sukses lagi di masa yang akan datang.

Bogor, 1 Oktober 2010 - pk. 04.59 (.... biasa insomia)

Selasa, 28 September 2010

Kebangkitan Pengusaha Kecil Indonesia

Untuk memulihkan perekonomian Indonesia, khususnya Pengusaha Kecil yang dianggap sebagai kaum lemah dan tak berdaya, perlu didukung oleh segenap putra-putri Indonesia sendiri.
Mungkin orang mengatakan bahwa pengusaha kecil (mikro) merupakan bagian kecil dari perekonomian negeri ini, namun lihatlah potensi kekuatan mereka apabila mendapatkan dukungan yang dibutuhkan? Apabila di India ada Grameen Bank yang dinyalakan oleh kepedulian seorang Muhammad Yunus terhadap kaum kecil yang dipandang sebelah mata, kitapun dapat memulainya untuk membangkitkan perekonomian negara kesatuan Indonesia yang kita cintai ini.
Nilai yang paling utama dari seorang Muhammad Yunus ketika memulai Grameen adalah kasih kepada kaum miskin papa. Kita juga bisa mewujudkan nilai kasih kepada kaum miskin dan lemah dengan membantu membeli produk ataupun jasa yang mereka produksi.
Siapkah Indonesia untuk mulai mendorong roda kebangkitan perekonomian kaum lemah, agar negeri yang kita cintai ini meluncur dalam kerekatan bangsa dan bahasa berhasil mewujudkan "KEMERDEKAAN" yang sesuangguhnya dalam bidang finansial dan ekonominya.

Minggu, 12 September 2010

Fotografi Yang Pernah Terlupakan

Hei teman, tadi malam (13/9/2010)aku dan keluarga maen ke Gramedia Mall Taman Anggrek setelah seharian mengurus rumah bersama istri dan anak-anak minus pembantu.
Yah, lumayan pegal nih badan karena memainkan peran sebagai pembantu rumah tangga yang baik. Maklum saja sudah lebih dari 10 tahun tidak mengurusi pakaian sendiri seperti saat bujangan dulu. Mulai dari nyuci piring, nyuci pakaian sampai menggosok pakaian. Jadi ingat masa-masa lajang dulu. ha...ha...haa....

Point yang mau aku ceritakan bukan tentang di rumah, tetapi tentang di Mall Taman Anggrek (MTA).
Ketika mulai beredar di antara tumpukan buku-buku di Gramedia, aku melihat sebuah buku yang berjudul Kiat Sukses Deniek G. Sukarya Dalam Fotofrafi dan Stok Foto. Buku ini memancingku untuk membukanya dan membaca tulisan yang ada di dalamnya.
Pikiranku jadi terbang melayang ke masa-masa SMA dulu, saat pertama kali aku bersentuhan dengan mata pelajaran yang bernama fotografi. Ketika itu aku punya keinginan di dalam hati untuk belajar fotografi dengan serius. Karena senangnya, aku membeli buku tulis yang khusus untuk mencatat pelajaran ini (buku isi 100 halaman). Buku ini kusampul gambar yang bagus, dan kuberi sampul plastik. Masih kuingat bahwa gambar kamera yang kutempel di dalam buku itu adalah kamera PENTAX yang membeberkan detail tombol-tombol yang ada dalam sebuah kamera serta kegunaannya. Guruku yang mengajarkan pelajaran fotografi adalah Bapak Tjiptadi yang menjadikan fotografer sebagai profesi utamanya sedangkan guru menggambar sebagai profesi ikutan.

Kalian mau tahu apa yang kurasakan? Begitu membaca sekilas tentang buku karangan Deniek ini, semangat dan kerinduanku untuk mendalami fotografi bangkit kembali. Seakan-akan dia berkata "hei aku masih disini untuk menemanimu mencari dan mengabadikan gambar-gambar indah tentang alam dan kehidupan".
Aku belum punya kamera SLR (Single Lens Reflex), barangkali aku harus menabung dulu supaya dapat membelinya. Yah.... harus ada pengorbanan untuk sesuatu yang kita inginkan, bukankah begitu....? (ingat ini keinginan bukan kebutuhan).
Namun demikian aku memiliki kamera digital compact yang dapat kujadikan alat untuk mulai mempraktekkan panduan yang diajarkan dalam buku Deniek G. Sukarya ini.

Lebih mudah bagiku memulai dari apa yang ada walaupun belum sempurna dibanding membuat semuanya sempurna lalu baru memulai sesuatu.

Satu hal yang kuingat dari buku Deniek adalan FOTOGRAFI ADALAH SENI MELIHAT, jadi apapun hal yang kulihat di dalam kehidupan sehari-hari dapat dijadikan obyek fotografi, dan menjadikannya bernilai karena disajikan dengan cara yang benar dan tepat.

Cara mencatat hasil fotopun menurut buku Deniek Sukarya ternyata punya aturan sendiri, misalnya
Bulan di kala fajar di Gunung Bromo, Jawa Timur
Canon EOS 5D Mark II,
16-35mm f.2.8L,
ISO 1250, program Av,
30 detik f.11

mirip daftar pustaka pada tulisan ilmiah, yah......:)

Wow....., walaupun baru membuka beberapa halaman, aku merasa bahwa memiliki buku ini merupakan suatu kekayaan baru dalam ilmu fotografi.
Sepertinya aku akan banyak mengalokasikan waktuku untuk mulai menekuni fotografi.
Buat Pak Deniek G. Sukarya, terima kasih karena telah menulis buku tentang fotografi yang membuka cakrawala saya dengan bahasa yang mudah dimengerti dan gambar-gambar yang sangat bagus.

Bagi teman-teman yang mau meilihat hasil karya Pak Deniek, dapat membuka situs beliau di www.denieksukarya.com